Jurnal Ayah #3 : Nemenin Istri Melahirkan

“Salah satu syarat kejantanan seorang lelaki adalah menemani istri selama proses melahirkan..”

AlhamduliLlaah. Tanggal 4 Maret sekitar Ashar istri saya merasakan kontraksi yang semakin intens. Dari yang pernah iseng saya baca-baca, ciri melahirkan sudah dekat diantaranya adalah kontraksi tiap 5-7 menit sekali. Jadilah sejak ashar itu saya menyiapkan pulpen dan kertas kosong untuk mencatat waktu setiap istri bilang kontraksinya datang. Dan benar, kontraksinya sudah intens setiap 6 menit sekali. Saya putuskan habis Isya kami akan ke RS untuk kontrol. Meskipun awalnya istri saya menolak dan minta ke RS nya hari Ahad pagi saja, tapi kami tetap berangkat.

Sesampainya di RS M*tr* K*l*a*g* Depok, kami langung diarahkan ke ruang persalinan di lantai 2. Setelah lapor dan menyerahkan buku Ibu Hamil (beli buat kontrol rutin), Istri saya masuk ke ruang bersalin. Ditahap ini saya dan Ibu boleh menemani di ruang bersalin. Setelah itu bidan jaga memeriksa istri dan menyatakan ini sudah bukaan 3, lebih baik menginap di sini saja. Karena feeling saya kok mengatakan anak saya akan lahir sebelum subuh, saya mengiyakan. Kata mbak bidannya, prosesnya secara teori setiap 1 jam akan tambah 1 bukaan (padahal ada Ibu-ibu yang dari bukaan 1 ke 5 lebih dari 24 jam, kondisi setiap orang berbeda). Saat itu jam 20.30an dan sudah bukaan 3, maka perhitungan saya jam 3.30 seharusnya akan lahiran berdasarkan teori dari si Mbak Bidannya.

Nah, mulai jam 21.00 ini petualangannya dimulai. Istri saya memang belum pernah mengalami rasa sakit yang parah, padahal kontraksi sampai bukaan 10 itu (yang saya tahu) rasa sakitnya akan bertambah-tambah. Jadilah sepanjang malam Istri saya teriak-teriak kesakitan. Teriakannya juga luar biasa. Jadi buat calon ayah muda di luar sana, pastikan kita ada disebelah Istri saat proses melahirkan ini mulai sampai selesai. Ohiya, jangan lupa pakai pakaian lengan panjang yang agak tebal. Trust me. Hehe. Mulai jam21.00 itu juga saya mulai membacakan ayat-ayat yang saya tahu bisa membantu melancarkan proses melahirkan, seperti surat An Naziat ayat 46. Ohiya, penting juga buat suami membaca sunnah-sunnah yang bisa dilakukan untuk membantu melancarkan proses melahirkan.

Sepanjang teriak-teriak itu juga istri saya marah-marah ke semua orang. Haghaghag. Bidan jaga juga kena omel. Kejadiannya, si bidan jaga ngingetin, “ayo Ibu, diinget latihan nafasnya..” Istri saya langsung mencak-mencak, “uwis tho Mbak, iki sakit iki lhoo..!” XD. Satu kesempatan saat istri saya lagi tenang karena kontraksinya lagi pergi, saya bilang ke bidan jaganya, “maaf ya Mbak, istri saya belum pernah ngalamin sakit dari kecil, nah sekalinya ngerasain sakit pas melahirkan, jadi ya begini reaksinya” habis bidannya jawab “iya Pak nggak papa, udah biasa juga kok” eh Istri saya marah-marah ke saya, “Ayah ki jangan mbikin-mbikin..! istri lagi kesakitan kok malah bla bla bla..”. haghaghag. Jangan kan saya, bidan yang denger aja ketawa. Eh habis saya senyam senyum nahan ketawa, Istri saya ngomel lagi, “Ayah malah ketawa..! bla bla bla bla..!!” XD XD

Sekitar jam 23.30 istri saya makin keras teriakannya. Setiap kontraksi datang, Istri saya teriak. masyaAllaah. Menemani istri melahirkan akan membuat seseorang mem-flashback memorinya, secara khusus memori yang berkaitan dengan bagaimana kita bersikap terhadap Ibu kita sendiri. Yang membuat saya meringis malam itu bukan cakaran atau remasan istri saya ditangan atau di leher, tetapi lebih kepada rasa cinta yang semakin tumbuh kepada istri, serta rasa bersalah atas kelakukan saya sebagai anak yang mungkin pernah menyakiti hati orang tua khususnya Ibu. Setelah berjam-jam Istri saya teriak-teriak, sekitar pukul 23.30 dinyatakan sudah bukaan 7 (atau 6, lupa). Sampai jam 01.00 istri saya masih teriak-teriak, satu bidan jaga mulai beres-beres. Kalau nggak salah jam 01.00 ini saya dipanggil bidan, dan diberi tahu “ini Pak, kepala bayinya sudah kelihatan”, saya ngintip dan benar, kepalanya sudah kelihatan. Jam 01.00 itu juga dokter Sofani masuk ruang bersalin dengan gaya tolak pinggangnya. Haghaghag.

Memang deh, yang bisa ngalahin istri saya cuman dokter Sofani. Begitu beliau masuk, istri saya langsung ngomong, “dokteer ini sakit banget dokteer”, dengan santainya beliau cuman bales, “ya mau lahir nggak anaknya? Namanya aja lahiran, ya sakit” dan herannya istri saya langsung nurut. XD. Nah, waktu beliau sudah di dalam ruang bersalin ini, Ibu saya disuruh keluar ruangan, cuma suami saja yang boleh ada di dalam, ada 3 bidan jaga. Yang satu nyiapin inkubator dan alat-alat. Yang dua nyiapin benda-benda lain. Nah, waktu proses pentingnya dimulai, saya diminta megangin kaki kanan istri saya, disaat ada satu bidan yang megangin kaki kiri, satu bidan mendorong perut istri saya ke bawah.

Sayangnya, karena berjam-jam teriak dan salah ngeden (kata mba Bidan), waktu dokter nyuruh istri buat ngeden, nggak ada perubahan. Entah salah entah memang tenaganya sudah habis. Disuruh ngeden lagi, sama, nggak ada perubahan. Lagi, dan nggak ada perubahan. Dokter bilang, “ini harus dibantu vacuum Pak, istrinya udah capek kayaknya, kasian bayinya kalau kelamaan di jalan lahir”. Sambil beliau nunjukkin kepala anak saya benar-benar udah dekat banget sama jalan keluar nya. Saya cuman bilang “iya Dok, di vacuum” setelah itu semua personil bergerak, kecuali saya. Satu-satunya cara saya membantu adalah diam dan memperhatikan yang ahli bekerja di ruangan itu. alat vacuum siap, bidan jaga siap, saya diposisi sudah siap. Tiba-tiba ada dokter laki-laki masuk. Emosi saya naik, “kok ada dokter laki-laki sih?”, dokter Sofani bilang, “buat nangkep bayinya Pak, nggak ada lagi dokter anaknya yang stand by”, istri saya juga nyahut, “darurat Yah, sudah nggak papa” dengan suara yang lemas. Masih nggak senang sebenarnya, tapi memang ini salah satu kelengahan saya. Akhirnya yasudahlah, proses dilanjutkan. Begitu semua siap, vacuum digunakan, anak saya lahir.. alhamduliLlaah.. kalau lupa ada bidan dan dokter, waktu lihat ini semua saya pasti nangis, karena saya laki-laki, maka menangis terbesarnya adalah tangisan tanpa air mata (tsaaah). Anak kami langsung diambil dokter anak dan diletakkan di inkubator, dibersihkan badannya, paru-parunya, dicek pendengarannya, matanya juga.

Menariknya, begitu anak kami keluar, Istri saya langsung nanya, “dia mirip siapa Yah?” yang jelas aja bikin seruangan cengengesan. Haghaghag. Dokter Sofani masih ngurus istri saya, dokter anak (yang saya bener-bener nggak tahu namanya siapa, Soni kah, Diki kah) ngurus anak saya. Saya nyiapin kurma untuk tahnik. Begitu dokter anak selesai, saya sampaikan terima kasih dan mohon maaf. Saya samperin anak saya, inilah kali pertama kami bertatap temu. Saling melihat. alhamduliLlaah anak saya normal, ngganteng kayak Bapaknya (eh). Mendengarkan suara menangisnya yang nge-bass. Pas lagi tatap-tatapan itulah dokter ngasih tahu, “kalau mau diadzanin, diadzanin dulu aja Pak”. Dengan niat supaya yang ia dengar pertama adalah suara kebaikan, maka saya adzanin dan saya iqomat di telinga kanan dan kiri. Lucunya, waktu pertama adzan, saya malah adzan ke telinga kiri. Haghaghag. Jadinya Kak Isykar waktu lahir, mendengar adzan di dua telinganya, dan mendengar iqamah juga di kedua telinganya. XD

Setelah itu saya menyiapkan kurma, akan saya tahnik. Saya ingat teman saya cerita dia ngumpet-ngumpet waktu mau mentahnik anaknya, karena sama petugas dilarang. Niat saya, saya akan tahnik setelah IMD, tapi ternyata istri saya dibius supaya tenang pas proses penjahitan yang mana bahkan setelah dibius pun istri saya masih bergerak tiap ada jahitan. Akhirnya saya beranikan untuk bertanya, “Dok, ini IMD kan harusnya, tapi istri saya masih teler. Saya tahnik dulu gimana dok?”, beliau dan bidan yang nemenin jawab, “Oh, boleh Pak silakan, bawa kurmanya nggak” alhamduliLlaah ternyata saya dapet dokter yang mungkin mendukung soal tahnik mentahnik ini. Si Isykar ini lucunya minta ampun, pas saya tahnik dan kurma mulai menyentuh lidahnya, dia senyam senyum. Duh, gimana Ayah nggak cinta?

Nggak lama, proses jahit menjahit selesai. Istri saya juga sudah mulai ngomong lagi. dibantu dokter IMD pun istri saya nggak sadar, malah nanya “ini apa ini Yah?” yang jawab juga si dokter, “ini anaknya ini Bu Ratrii.. katanya mau IMD, bangun woi banguun” haghaghag. Setelah IMD dinyatakan berhasil (yang mana saya nggak paham kok tahu-tahu berhasil), dokter pulang, dan kami bertiga ditinggal diruangan bersalin, saya, istri, dan anak kami yang waktu itu belum diberi nama Kak Isykar. Waktu sudah jam 4.00 pagi, sudah 2 jam lewat setelah anak saya lahir pada pukul 02.05 tanggal 5 Maret 2017. masyaAllaah, wal hamdulillaah..

Pelajaran yang agaknya perlu saya share adalah, ketika istri akan melahirkan, jangan lupa beberapa hal ini :

  1. Periksa latar belakang RS (sponsor dan lain-lain)
  2. Pastikan kontrol ke dokter Obsgyn yang pas. Cocok. Supaya nggak kalah dengan istri kita yang galak. hehe
  3. Minta dokter anak yang perempuan. Mudah-mudahan nggak ada lagi kejadian seperti saya kemarin, yang membantu proses melahirkan dokter anaknya laki-laki. Sebisa mungkin pastikan semua personil nya perempuan. Mudah-mudahan Allah memaafkan saya karena kelalaian saya kemarin, dan mudah-mudahan teman-teman saya bisa menyiapkan hal ini.

Setelah melalui ini, saya semakin paham kenapa banyak suami lebih memilih “selamatkan istri saya dok” ketika keadaan mulai darurat yang meminta kita harus memilih, istri atau anak? Alhamdulillaah saya tidak mengalami keadaan sedarurat itu (mudah-mudahan tidak akan pernah melaluinya sampai kapanpun), tetapi saya yakin, salah satu cara menumbuhkan dan menghujamkan cinta di dalam hati kepada istri adalah dengan hadir di sebelahnya saat proses melahirkan, sebagai tempat bersandar, tempat menerima makian, cubitan dan pukulan-pukulan. Dan saya semakin tahu, bahwa cinta dapat menetralisir segala sakit yang seorang suami terima selama proses melahirkan itu. Dan saya juga semakin memahami mengapa Umar ibn Khattab hanya terdiam saat dimarahi istrinya. Nah, selamat menumbuhkan cinta dan menjadi pejantan sejati.

WhatsApp Image 2017-05-01 at 21.09.58Kak Isykar waktu baru selesai dibersihkan, di inkubator. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s