Cerita Tentang Kita

IMG_20170605_085918

2011 sebelum pertengahan, siapa dia?

Adalah tahun dimana kita pertama kali bertemu. Yang terekam di dalam kepala adalah, ada sesosok perempuan yang tidak ku kenal di dalam ruang itu. Mengenakan jilbab kaus berwarna hitam dan jaket kelonggaran, heran, kok ada orang betah mengenakan jaket yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Dan dia Sedang sibuk mengurusi sesuatu di laptopnya. Aku pun memilih tak peduli. Sebab tujuan ku ke ruang itu adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar dari urusan asmara. Hanya datang, menyelesaikan urusan, kemudian pergi.

2011 agak tengah, oh, sekarang aku tahu nama mu.

Bukan niat mencari tahu sebenarnya. Tetapi memang pekerjaan di kepanitiaan perhelatan cukup besar lah yang menskenariokan aku dan kamu duduk bersama dalam satu forum. Memang, kalau aku adalah pion-pion yang terjun untuk bertempur, diri mu adalah yang menyusun rencana ini dan itu. Lagi, tidak ada apa yang istimewa. Sebab, kita bertemu hanya karena skenario pekerjaan kan? Satu yang aku tahu selain nama mu setelah hari itu, ternyata ada perempuan yang cerewetnya bukan main di dunia ini.

2011 akhir, ketika baliho-baliho pertama itu terpasang.

Hidup memang sandiwara. Siapa sangka rekan-rekan mempercayakan sesuatu yang berat kepada ku waktu itu. Sedangkan kamu, aku tak tahu. Pun aku tidak mencari tahu. Hanya sekedarnya saja. Oh, si anak ini ternyata satu tim dengan ku pada taraf yang lebih tinggi. Sudah. Tidak ada yang istimewa. Bertemu beberapa kali dalam forum pun, ya sudah. Tidak ada apa-apa kecuali memang antara aku dan kamu mulai ada interaksi seadanya.

Interaksi seadanya itu ternyata juga tidak seadanya, jika mulai ku ingat-ingat. Pesan-pesan mu mulai meramaikan akun medsos ku. Tetapi, pembicaraan mu hanyalah pembicaraan yang penting saja. Tidak ada yang lain.

Sinetron hidup berjalan. Baliho-baliho itu membuahkan hasil. Fokus ku saat itu tidak ada lagi soal drama cinta dan syair-syair syahdu kecuali sedikit sekali. Sebab ada pekerjaan besar yang harus ku selesaikan. Tidak terlalu besar, tetapi besar.

Tetapi balih-baliho di tempat mu bernaung tidak berhasil. Kita kalah. Banyak dari kita yang memutuskan mencari ladang yang lain, tetapi angin membawa kabar bahwa ada seorang perempuan yang terus bertahan di ladang itu. Ah, tidak lama kemudian aku tahu, itu kamu.

2012, sepanjang tahun.

Seiring dengan kabar bahwa tugas mu kian berat di tempat mu bernaung, pesan-pesan mu mulai sering masuk ke salah satu medsos ku. Dan, mulai ada canda diantara kita. Diobrolan-obrolan kita, setelah membahas hal-hal yang membuat jumud. Mungkin, siapapun akan menolaknya. Tetapi detik itu, detik dimana canda kita mulai berbuah tawa kita berdua, aku tahu, aku memahami.. ini lah waktu dimana benih-benih cinta tengah disemai, dan setiap kita harus memilih.. akan merawat dan menjaga nya atau mendiamkannya tumbuh sendiri, sampai layu dan mati karena matahari.

Detik – detik pada tahun itu aku mengerti. Bahwa kamu tengah merasakan sesuatu, sambil terus mendoakan agar dugaan ku salah. Dan meminta Tuhan untuk tetap menjaga kesucian cinta kita berdua. Jika pun hari ini masing-masing kita menolak tentang perasaan kita masing-masing pada waktu itu, tidak mengapa. Cinta, pada awalnya, memang akan dilanda keraguan dan penolakan akan pengakuan.

Dan entah apa yang terjadi pada semesta kala itu. Semakin aku mendoakan kebaikan untuk masing-masing kita, semesta seolah mempermudah pertemuan-pertemuan kita. Dalam forum, dalam sebuah perhelatan besar di jalanan, dalam dan dalam, pada dan pada. Kalau boleh ku tebak, diri mu pasti akan menolak sekelumit perasaan yang muncul pada waktu-waktu itu. Begitu pun aku, bagi ku waktu itu.. belum saatnya aku memikirkan lebih jauh soal cinta.. aku hanyalah anak manusia yang masih mencari-cari apa itu cinta sebenarnya, kala itu.

Tetapi, sebetapa besarnya pun penolakan mu tentang perasaan mu kala itu, kekasih ku. Dari pesan – pesan mu yang semakin sering membicarakan hal di luar kebiasaan, serta dari kesenduan tatap mata mu yang beberapa kali tertangkap oleh penglihatan ku, aku tahu.. engkau tengah menambah alasan untuk memilih, atau malah, sudah memutuskan untuk memilih.. untuk menjaga benih – benih cinta itu, agar menjadi besar, rindang dan kokoh.

Sehingga, pada waktu – waktu itu, ketika pesan mu datang, ketika tidak sengaja tatapan mata mu tertangkap, aku selalu mendoakan agar diri mu baik-baik saja terhadap masa depan yang kita tidak pernah tahu pasti.

Hingga hari itu tiba, secara tiba-tiba. Teman – teman kita memutuskan hal yang gila, untuk ku. Untuk kembali menjadi hiasan dalam baliho untuk skala yang lebih besar. Sebuah keputusan yang tidak pernah kuperhitungkan sebelumnya. Yang mana lagi – lagi, keputusan ini seolah kembali menjadi jalan semesta untuk lebih banyak lagi mempertemukan kita. Di jalan – jalan itu. Di ruang – ruang itu. Di panggung – panggung itu. Sedang hati ku masih sama, dan hati mu aku tak tahu.

Ada badai menanti, dan belum ada lagi waktu untuk bicara soal cinta, begitu pikir ku waktu itu.

Dan benar. Saat orang lain menjauhi badai dan taufan, aku, kita semua, justru menghampirinya. Manusia memang gemar bergelut dengan masalah. Sebab manusia yakin, dirinya hanya akan menjadi hebat ketika bergelut dengan masalah, meskipun kalah dan menyerah.

Detik ketika aku mendatangi badai itu.. aku mengerti bahwa pertemuan kita akan semakin sering terjadi.

2013 …

Kita bertemu hampir setiap hari. Dalam keadaan serius, maupun dalam canda – canda harian kita. Cinta, memang dapat dilihat dari tanda – tanda. Cinta dari Tuhan, pun kita tangkap melalui tanda – tanda. Tak jauh berbeda pula cinta manusia kan?

Waktu – waktu ini lah interaksi kita semakin sering. Aku semakin mengenal mu. Mengerti latar belakang mu. Semakin memahami betapa sesungguhnya diri mu adalah seseorang yang tidak mampu menyembunyikan perasaan mu sendiri. Waktu – waktu ini lah aku mengingat, kalau kamu memang cerewet seperti kata orang – orang, mengapa setiap aku berada dalam satu ruang dirimu membisu?

Mungkin diri mu lupa. Suatu hari aku pernah datang ke ruang kerja kita, dari luar aku bisa mendengar suara mu tengah bernyanyi bersama rekan – rekan kita yang lain, begitu aku muncul di pintu masuk dan melangkah kan kaki ku, begitu pula diri mu diam.

Mungkin diri mu lupa. Suatu hari ketika diri mu tengah berapi – api memimpin rapat, aku baru sampai ruang kerja kita untuk urusan yang lain, seketika itu pula suara mu padam. Semangat mu seolah hilang.

Mungkin diri mu lupa. Suatu hari saat aku sedang di atas mobil sound, dan ingin memastikan keadaan mu baik – baik saja, wajah mu tengah cemberut memperhatikan dan ku balas dengan sedikit saja senyuman.

Mungkin diri mu lupa. Suatu hari saat kita tengah menyelenggarakan acara bersepeda, aku yang harus berada di baris paling depan menengok ke belakang untuk memastikan sepeda mu baik – baik saja. Tapi nyatanya tidak, waktu itu sepeda mu terlalu tinggi untuk ukuran tubuh mu yang mungil, dan memasang wajah cemberut menatap ku. Toh, aku tak berbuat apa – apa. Hanya sedikit senyuman kecil saja.

Mungkin diri mu lupa. Suatu hari saat badai hampir berakhir, ada orang lain yang datang menghampiri ku membawakan rantang berisi makanan.. andai aku ahli dalam melukis, akan ku lukis rupa wajah mu hari itu.

Aku tahu. Ada yang tidak biasa diantara kita. Kita hendak mengingkarinya, mungkin, aku, atau kamu saja..

2014, Ulah Semesta

Tidak dinyana, awal tahun ini, aku mengalami kejadian yang lucu. Tulang pipi kiri dinyatakan patah dan hilang (?), dan terdapat pembengkakan di otak karena benturan keras. Kecelakaan futsal ternyata bisa separah itu. Hingga dokter meminta ku untuk bermalam di rumah sakit beberapa hari saja.

Sampai di hari pertama aku menginap di rumah sakit, saat penjenguk belum ramai. Kamu datang bersama sahabat mu, dan mulai memasang wajah cemberut berurai air mata. Aku yang jatuh, kenapa kamu yang menangis? Kalau ini bukan cinta, lalu apalagi? Hampir setiap hari selama aku dirawat pula diri mu hadir. Duduk di ruangan itu, bersama banyak orang lainnya.

Alam raya pun kembali berulah. Kampus mewajibkan kita untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Tidak ambil pusing, aku memutuskan untuk langsung saja mengikuti alur yang telah dibuat oleh pihak kampus, mulai dari kelompok sampai lokasi penempatan. Yang mengherankan adalah, dari sekian banyak Mahasiswa dan sekian banyak kelompok, Tuhan jadikan pula kita berada dalam satu kelompok yang akan tinggal di satu area yang sama selama 2 bulan lama nya.

Mereka pun menebak – nebak, ada apa diantara kita.

Kita semakin sering bertemu. Dalam program – program pengabdian yang kadang kita pun tak tahu apakah benar masyarakat dapat mengambil manfaat darinya. Tetapi canda kita semakin berkurang. Sampai pada suatu hari, tetiba dirimu bertanya apakah seorang perempuan memang wajib bisa memasak. Maka ku jawab seadanya. Juga ketika seorang senior kita di kelompok itu malam – malam menegur ku tentang mu. Siapapun bisa melihat, katanya, bahwa kamu memang menyimpan sesuatu untuk ku. Pun ku jawab seadanya.

Ketika ku mulai sesi terakhir kehidupan kampus ku pun, diri mu lah orang yang paling cerewet soal ini itu. Saat pada akhirnya penelitian ku selesai dan dipresentasikan untuk pertama kalinya, engkau pun hadir disitu. Termasuk ketika ku hadapi sidang akhir, dua sahabat ku menelepon, tim kita selama melalui badai hadir, disitu pula ada diri mu, kekasih ku. Membawakan minuman yang tidak banyak orang tahu itu kesukaan ku.

Sampai, hari dimana kutinggalkan kota Yogya karena telah selesai seluruh urusan studi ku, 15 menit sebelum kereta berangkat diri mu hadir menerobos hujan membawa beberapa bingkisan. Kemudian menangis dibalik jeruji pembatas pengantar dan penumpang. Mungkin diri mu lupa, tetapi anak asrama bimbingan ku sampai hari ini tidak akan pernah melupakan hari dimana ada seorang perempuan menangis karena pembimbingnya akan meninggalkan Yogya.

2015 sampai 2016, Ada Jarak Di Antara Kita

Pertemuan kita menjadi mustahil. Sebab ada jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita. Tetapi teknologi memang terlalu, ia tetap dekat kan kita melalui percakapan – percakapan di grup, atau bahkan pada perbincangan berdua saja. Soal alam semesta, soal kuliah, masa lalu, masa depan. Dan hal – hal yang tidak biasanya kita bicarakan di masa lalu.

Sampai, ketika aku memahami bahwa aku pun memiliki kecenderungan untuk mencintai mu, ini semua harus ku akhiri. Adalah tidak baik bagi kita yang tidak mengerti bagaimana masa depan, dan diam – diam saling cinta, meneruskan obrolan – obrolan tidak penting hanya berdua saja. Secepat aku memutuskan, secepat pula aku meminta kepada Tuhan soal perjodohan. Aku meminta agar dia saja yang menandakan. Ku lepaskan dan ku hapuskan segala kecenderungan, lalu ku meminta padaNya untuk memberikan yang terbaik.

Dari sekian banyak cara, yang muncul adalah nama mu, kekasih ku. Ku ulangi berkali – kali, sebab aku takut ini adalah efek dari komunikasi panjang kita. Tetap nama mu yang muncul waktu itu. Hingga aku beralih kepada pertimbangan – pertimbangan logis manusia, ku susun variabel – variabel ini dan itu agar terukur seluruh alasan memilih seorang pendamping, tetap kamu lah yang memenuhi semua itu. Maka ku beranikan sore itu langsung menyunting mu setelah shalat dua rakaat.

Mengingat aku telah memutuskan segala bentuk komunikasi, aku dapat memahami jika ternyata diri mu menolak. Pun ku minta diri mu untuk memikirkan matang – matang, sebab pernikahan bukan soal permainan. Ini akan selamanya, sampai ke firdaus dan bertetangga dengan Rasulullaah. Setelah menanti hampir 2 hari, pesan mu masuk, diri mu siap menjadi istri ku, begitu jawab mu di sore hari menjelang maghrib itu. Tetapi orang tua mu meminta diri mu untuk lulus terlebih dahulu, begitu tambah mu sore itu.

Sepanjang proses menyiapkan, aku selalu bertanya – tanya, apakah ini keberkahan, apakah ini mendapat keridhoan. Duhai, adalah petaka jika keluarga kita bukan lah keluarga yang di ridhoi Allah kan? Hampir setiap hari aku memohon ampun dan memohon keridhoanNya. Cenderung mencintai seseorang, adalah memang sebuah kefitrahan. Adalah zhalim menghilangkan fitrah itu dengan alasan apapun. Tetapi memang mencintai seseorang dapat ditumbuhkan dengan cara apapun, kepada yang belum kita kenal sekalipun.

Setelah ku dengar kabar wisuda mu, aku berusaha mempercepat proses pernikahan kita agar selesai sebelum bulan Ramadhan. Tidak dinyana, meskipun sedikit agak menegangkan, rupanya orang tua mu mengizinkan. Hanya 3 minggu setelah aku bertamu, Allah mempersatukan kita dalam ikatan cinta. Dalam sebuah mahligai kebahagiaan.

Ku ucapkan akad pada tanggal 3 Juni 2016 pukul 9.00 pagi di ruang tamu rumah mu, disaksikan banyak teman – teman kita. Aku telah resmi memperistri bidadari yang Allah kirim ke bumi..

Rasanya aneh, bagi kita berdua untuk menikah. Diam – diam tanpa aku sadari, aku juga turut menjaga benih – benih cinta itu untuk tumbuh, rindang dan kokoh..

Sampai hari ini, Sayang.. satu tahun telah kita lalui berdua. Waktu memang tidak pernah mengerti betapa manusia tidak akan pernah siap untuk ditinggalkannya. Ada banyak sekali permasalahan selama satu tahun ini, tetapi keindahannya pun tak kalah dari permasalahan yang ada. Cerita cinta kita masih amat panjang. Karena nya aku meminta maaf mu untuk segala kesalahan yang mungkin akan aku lakukan.. memiliki mu sebagai pendamping hidup adalah sebuah anugerah tak terkira. Melalui mu pula aku memahami lebih jauh tentang cinta dengan hadirnya seorang karunia. Satu tahun, dan aku masih berusaha menjadi pasangan yang baik. Satu tahun, dan yang bisa kuberikan kepada mu untuk mengenangnya hanya tulisan tak beraturan ini.

Kemari, kekasih ku.. biar ku genggam jemari mu, agar terasa kedalaman cinta ku melalui genggaman kita.. Sebab, dalam dunia yang fana ini, aku dan kamu hanyalah dua anak manusia yang tengah belajar mengeja dan saling mencintai lebih jauh lagi, dalam kasih sayang Tuhan, selamanya.. selamanya..

Badai puan..

Telah berlalu..

Salah kah ku menuntut mesra..?

Tiap taufan menyerang, kau disampingku..

Kau aman ada bersama ku..

Selamanya…

Sampai kita tua..

Sampai jadi debu..

Ku diliang yang satu

Kau disebelah ku..

 


*cetak miring adalah sebait karya Banda Neira, dengan judul Sampai Jadi Debu. dengan sedikit perubahan di kalimat penutupnya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s