Engkau Lah Hulu, Diri Mu Lah Muara

Engkau lah hulu, diri mu lah muara
Sedang aku hanya riak tak berdaya
yang terhempas bebatuan
yang kembali pada kegersangan

aku, yang berdiri dalam gersangnya sepi

engkau lah hulu, diri mu lah muara
sedang aku hanya riak tak berdaya
yang hampir mati
seketika hidup lagi

karena kasih mu, karena cinta mu

engkau lah hulu, diri mu lah muara
sedang aku hanya riak tak berdaya

aku, yang hanyut disyahdunya cinta mu…


21 Juni 2017

Selamat ulang tahun, Sayang. 🙂

Advertisements

Cerita Tentang Kita

IMG_20170605_085918

2011 sebelum pertengahan, siapa dia?

Adalah tahun dimana kita pertama kali bertemu. Yang terekam di dalam kepala adalah, ada sesosok perempuan yang tidak ku kenal di dalam ruang itu. Mengenakan jilbab kaus berwarna hitam dan jaket kelonggaran, heran, kok ada orang betah mengenakan jaket yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Dan dia Sedang sibuk mengurusi sesuatu di laptopnya. Aku pun memilih tak peduli. Sebab tujuan ku ke ruang itu adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih besar dari urusan asmara. Hanya datang, menyelesaikan urusan, kemudian pergi.

2011 agak tengah, oh, sekarang aku tahu nama mu.

Bukan niat mencari tahu sebenarnya. Tetapi memang pekerjaan di kepanitiaan perhelatan cukup besar lah yang menskenariokan aku dan kamu duduk bersama dalam satu forum. Memang, kalau aku adalah pion-pion yang terjun untuk bertempur, diri mu adalah yang menyusun rencana ini dan itu. Lagi, tidak ada apa yang istimewa. Sebab, kita bertemu hanya karena skenario pekerjaan kan? Satu yang aku tahu selain nama mu setelah hari itu, ternyata ada perempuan yang cerewetnya bukan main di dunia ini. Continue reading “Cerita Tentang Kita”

Jurnal Ayah #1

851440424_52271Menikah. pada akhirnya kita akan menikah. baik dengan pilihan kita sendiri, atau dengan pilihan orang lain, kita akan menikah. begitu pula saya, akhirnya pun akan menikah. baik dengan pilihan saya sendiri, dipilihkan oleh Murabbi, atau malah dijodohkan oleh orang tua.

Saya juga sama dengan orang lain. mungkin bedanya, keputusan untuk menikah di usia ke 24 sudah saya tuliskan sejak saya masih berseragam putih biru. dan sejak tahun itu pula saya sampaikan ke orang tua karena saya tahu, di zaman saya tumbuh ini, akan semakin sulit untuk memahamkan orang tua tentang urgensi menikah di usia muda. Maka dengan sangat polosnya waktu itu saya bilang ke orang tua, “Bu, adek mau nikah nanti diumur 20 tahun ya..”. Bagaimana reaksi orang tua saya? Yang pasti sih kaget, kenapa? anak seusia saya banyak yang kena marah karena pacaran, atau yang lainnya, lha saya kok malah minta izin nikah umur 20. Loh? kenapa minta izinnya umur 20 Yan? katanya targetnya umur 24?

Kalimat yang saya sampaikan masuk ke dalam ilmu lobi dan negosiasi. saya, yang waktu itu masih berusia 13 tahun sadar betul, di usia 20 tahun saya masih duduk di bangku kuliah. Informasi sederhana ini saya sadari betul akan menjadi argumentasi orang tua saya untuk melarang menikah di usia 20 tahun. Continue reading “Jurnal Ayah #1”

Hadits Arbain ke 13.

Dari Annas Ibn Malik ra, khadim (pembantu) RasuluLlaah saw, Nabi saw mengatakan : “sekali-kali tidak beriman seorang pun dari kalian sampai kalian mencintai saudaranya seperti kalian mencintai diri kalian sendiri” (riwayat Bukhari & Muslim)

Bahwa salah satu syarat keimanan adalah saling mencintai dengan saudara-saudara seiman dan seaqidah, seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Level ukhuwwah yang diminta, bukan lagi sekedar husnuzhon, tetapi itsar. Taaruf, tafahum, ta’awun, lewat semua. Itsar, saling mendahulukan. Dan orang yang saling mencintai karena ALlah, adalah orang yang bahkan para Nabi dan Syuhada iri ngelihat mereka.

Maka jangan heran kalau sejarah ummat Islam, khalifah pernah mengirimkan berbondong-bondong tentara, hanya karena ada 1 muslimah yang jilbabnya ditarik oleh tentara Romawi dengan pesan kepada Romawi, “minta maaf atau perang”.

Karena ummat Islam itu satu tubuh, yang mana jika salah satu bagiannya tertusuk duri, maka sakitnya terasa ke seluruhnya.

Maka jangan heran, kalau ada yang berbondong-bondong aksi solidaritas, galang dana, bahkan ikut berangkat jihad ketika Palestina, Suriah, Afghanistan, Chechnya, atau negeri Islam lainnya dijajah oleh penguasa yang jelas-jelas menentang Islam.

Yang aneh dan patut dipertanyakan imannya justru kita, yang bahkan mendoakan saja tidak..

Selamat saling mencintai, karena Tuhan untuk manusia. 🙂

View on Path

Selamat Hari Lahir UGM..!!

“Bagi kami almamater ku berjanji setia..
Ku penuhi darma bhakti untuk Ibu Pertiwi..
Di dalam persatuan mu, jiwa seluruh bangsa ku..
Ku junjung kebudayaan mu kejayaan nusantara..”

UGM. Universitas Gadjah Mada.

Kalau diingat 2009 yang lalu, masuk UGM bukanlah sebuah langkah yang pernah saya perhitungkan sama sekali  sebab, target saya waktu itu adalah jurusan, bukan soal kampusnya yang mana. Bahkan posisi UGM ada dimana saja saya tak punya informasi tentangnya.

Sesuatu yang saya pernah ketahui, hanya soal Gadjah Mada, patih Gadjah Mada. Sesosok laki-laki yang punya mimpi soal nusantara. Sedang tentang Universitas Gadjah Mada, informasi yang saya miliki teramat minim.

Hal yang membawa saya ke UGM adalah jurusan. Teknik Fisika. Memang, jurusan ini masuk dalam perencanaan hidup saya. Selain jurusan, kenapa dulu saya lebih memilih TF UGM dibanding ITB adalah karena uang formulir yang terbilang “geblek”. Disaat ITB sekitar 750ribu, UGM hanya 175ribu saja. Bagi saya yang berekonomi pas-pasan ini, biaya formulir juga menjadi salah satu pertimbangan dalam hal memilih kampus.

Sesampainya di UGM pertama kali pun, setelah menempuh perjalanan Depok-Yogya sendirian menggunakan Bus, saya masih gagal memahami dimana letaknya, ini kampus apa, dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenisnya.

Tapi ternyata, apa-apa yang saya alami di kampus ini nggak kalah indah dengan apa yang terjadi belasan tahun sebelumnya.

UGM, yang disebut sebagai kampus kerakyatan pada waktu itu, berhasil memperkuat banyak mahasiswanya untuk terus berbakti dan peduli. Sampai, seorang teman pernah dengan sadarnya mengatakan, “salah nih gue kuliah di sini, jadi mikirin rakyat mulu”.
Pada titik itu saya sadar Tuhan tengah mengabulkan doa saya untuk berada di lingkungan terbaik agar saya senantiasa terjaga dalam nafas perjuangan.. implikasinya adalah, orang-orang yang hadir dalam hidup saya selama ini, adalah hadiah Tuhan agar saya berada di lingkungan terbaik. Termasuk kampus ini. Bukan soal peringkat, tetapi lingkungannya.

Di kampus ini pula bertambah deretan nama orang hebat yang berhasil saya temui. Jangan kira mereka menteri, presiden, atau pejabat tinggi lainnya. Mereka ini adalah dosen, dan mayoritasnya justru mahasiswa. Bukankah sebuah anugerah, jika kita hidup ditengah-tengah manusia yang berhasil membuat kita merasa harus terus berusaha menjadi yang terbaik?

Keramahan, kesederhanaan, meski dicampur dengan sedikit keangkuhan, serta adab-adab lain kekhasan UGM yang berada di daerah istimewa ini.. bukan lah sesuatu yang mudah dilupakan.

Sebanyak apapun konflik serta pengalaman tak baik di dalamnya, UGM tetaplah almamater yang harus saya jaga nama baiknya.

Karena, kalau bukan karena menjadi bagian dari UGM, saya tidak akan belajar banyak hal soal kehidupan.
Karena, kalau bukan karena menjadi bagian dari UGM, saya mungkin tidak akan mendapatkan banyak kesempatan.
Karena, kalau bukan karena menjadi bagian dari UGM, saya tidak akan menjadi seperti hari ini.

Sampai setahun lalu, saat alat penelitian tugas akhir telah saya siapkan di lokasi selatan Yogya, yang pertama kali terfikirkan adalah, ah, sebentar lagi saya sudah bukan mahasiswa. Petualangan-petualangan sebagai mahasiswa akan berakhir. Pengabdian-pengabdian atas nama mahasiswa akan berakhir. Sebuah episode perpisahan yang mau tak mau harus dilalui. Dan episode baru dalam cerita hidup akan datang, yang tentu akan jauh lebih menantang.

Semoga UGM tetap dengan kearifannya, keramahannya, kesederhanaannya, dan kerakyatannya.

Selamat berusia 66 tahun, Universitas Gadjah Mada.

“Bagi kami almamater ku berjanji setia..
Ku penuhi dharma bhakti untuk Ibu pertiwi..”

Monolog Pemimpi

Mimpi. Sesuatu yang sampai hari ini masih gratis untuk setiap orang miliki. Abstrak, acak, tak jelas, sampai rasional, terukur, dan realistis.

Iya, kita memang harus bermimpi setinggi-tinggi nya, seindah-indahnya. Tapi tak jarang juga keluar kata-kata yang meminta kita untuk segera sadar diri agar tak terlalu bermimpi tinggi.

Kontradiktif.

Pun demikian, agaknya memang tidak ada mimpi yang terlalu kecil, atau malah terlalu besar. Sebabnya? Kita memang punya takaran bahagia masing-masing. Seperti bertahun-tahun lalu pernah saya sampaikan. Dalam tempurung yang kita ciptakan sendiri itu, kita bebas mencipta langit, setinggi-tingginya. Kita bebas meletakkan bintang-bintang, seindah-indahnya. Dan kita bebas melukiskan perjalanan hidup. Ya memang, karena itu adalah tempurung kita masing-masing.

Yang sering dilupakan oleh para pemimpi adalah, akan ada masa dimana mimpinya seolah diremuk redamkan oleh keadaan. Sampai-sampai harus memeras otak, bagaimana caranya agar setiap mimpi-mimpi mengubah alam semesta nya tetap menyala-nyala menerangi hati dan orang-orang disekitarnya.

Bah.. ternyata bermimpi pun terancam diremuk redamkan.

Tapi, kita memang manusia yang diberi kelebihan soal akal. Akal yang menuntun kita pada kelebihan lain, yaitu soal memilih. Tersenyum atau cemberut adalah pilihan. Menyapa atau disapa adalah pilihan. Memberi atau menyimpan adalah pilihan. Bisnis atau kerja adalah pilihan. Maka, pun dalam bermimpi ini.. menjaganya agar tetap menyala adalah juga sebuah pilihan.

Sampai, lagi, segala daya dan upaya telah kita lakukan untuk mencapai titik-titik mustahil.. dan keajaiban-keajaiban satu per satu mewujud dengan segala keindahannya..