Jurnal Ayah #4 : Sesak Nafas Kak Isykar

ppSetelah anak kami lahir, proses selanjutnya adalah memilih dokter anak. Tanggal 5 Maret setelah shalat Subuh, saya dipanggil suster untuk mendiskusikan soal dokter anak ini. Karena saya benar-benar tidak punya referensi, pertimbangan saya cuma, siapa yang ada pagi ini di RS. Akhirnya saya pilih dokter Diki. Setelah itu anak saya dipindah ke kamar bayi bersama bayi-bayi lain, ditimbang, diukur, dihitung jarinya, dan lain-lain. Saya ingat betul pagi itu anak saya normal.

Setelah saya kembali ke ruang bersalin untuk menemani istri, sekitar jam 6 pagi saya dipanggil lagi ke kamar bayi, saya dikasih tahu kalau Isykar nafasnya sangat cepat seperti sedang sesak, karena itu diberikan bantuan selang oksigen supaya dia nyaman. Waktu pertama dengar ini saya merinding. Selang beberapa puluh menit, saya dipanggil lagi dan diberi info bahwa Isykar tidak membaik nafasnya, sambil si suster memberi tahu soal angka-angka di alat yang ada di dekat Isykar. Perasaan saya masih kacau. Belum tidur, belum makan, habis lihat istri melahirkan, anak saya sesak nafas. Yang saya ingat, satu tarikan nafas Isykar hanya mampu menarik oksigen separuh dari bayi normal. Maka Isykar butuh menarik nafas lebih cepat supaya kebutuhan oksigennya terpenuhi kalau nggak dibantu pakai selang oksigen. Setelah itu saya diberitahu bahwa nanti dokter anaknya akan menjelaskan keadaannya. Kemudian saya kembali lagi ke ruang bersalin, beres-beres karena istri saya akan dipindah ke ruang rawat inap.

Saya lupa, sekitar jam 7, 8 atau 9, saya baru dipanggil lagi ke kamar bayi, yang jelas shift susternya sudah ganti. Sebelumnya, hampir setiap 20 – 30 menit saya nengok Isykar, sambil doa terus mudah-mudahan Isykar sehat. Pertama kali dipanggil, dokternya bukan dokter Diki, tapi dokter perempuan berambut panjang dan pakai masker yang saya nggak ingat siapa namanya. Beliau menjelaskan beberapa kemungkinan-kemungkinan penyebab bayi sesak. Ohiya, sebelumnya saya sempat ngomong soal tahnik pakai kurma di dekat suster, susternya langsung bereaksi, “harusnya nggak boleh Pak, kan bayi belum boleh makan apa-apa selain ASI” (kata Kakak saya, saya mentahnik ini kemudian jadi omongan diantara suster-suster, wallahualam benar apa enggak). Saya dikasih penjelasan bahwa ada beberapa hal penyebab sesak nafas pada bayi baru lahir, diantaranya yang saya ingat : Continue reading “Jurnal Ayah #4 : Sesak Nafas Kak Isykar”

Jurnal Ayah #3 : Nemenin Istri Melahirkan

“Salah satu syarat kejantanan seorang lelaki adalah menemani istri selama proses melahirkan..”

AlhamduliLlaah. Tanggal 4 Maret sekitar Ashar istri saya merasakan kontraksi yang semakin intens. Dari yang pernah iseng saya baca-baca, ciri melahirkan sudah dekat diantaranya adalah kontraksi tiap 5-7 menit sekali. Jadilah sejak ashar itu saya menyiapkan pulpen dan kertas kosong untuk mencatat waktu setiap istri bilang kontraksinya datang. Dan benar, kontraksinya sudah intens setiap 6 menit sekali. Saya putuskan habis Isya kami akan ke RS untuk kontrol. Meskipun awalnya istri saya menolak dan minta ke RS nya hari Ahad pagi saja, tapi kami tetap berangkat.

Sesampainya di RS M*tr* K*l*a*g* Depok, kami langung diarahkan ke ruang persalinan di lantai 2. Setelah lapor dan menyerahkan buku Ibu Hamil (beli buat kontrol rutin), Istri saya masuk ke ruang bersalin. Ditahap ini saya dan Ibu boleh menemani di ruang bersalin. Setelah itu bidan jaga memeriksa istri dan menyatakan ini sudah bukaan 3, lebih baik menginap di sini saja. Karena feeling saya kok mengatakan anak saya akan lahir sebelum subuh, saya mengiyakan. Kata mbak bidannya, prosesnya secara teori Continue reading “Jurnal Ayah #3 : Nemenin Istri Melahirkan”

Jurnal Ayah #2: 4 Bulanan & 7 Bulanan

Apa yang diajarkan oleh “orang tua” itu mungkin terlihat tidak ada dalil atau dasar syar’i nya. tetapi tetap sangat mungkin itu semua ada maksudnya. Kita hanya perlu melakukan pemeriksaan lebih jauh tentang itu. Sebagai contoh, perayaan 4 bulanan dan 7 bulanan. ada dalilnya? nggak ada. ada hikmahnya?

Semenjak Istri saya “ketahuan” hamil, saya mempersering (bahasa apa ini) buka-buka literatur tentang kehamilan. Ya tentang perkembangan janin. Tentang perubahan-perubahan fisik Istri. Baca cerita tentang suami siaga. Sampai tentang ruqiyah untuk membantu proses melahirkan. Selama kegiatan mempersering (ini apa?) membaca dan mencari informasi itu, saya menemukan sesuatu tentang 4 bulanan dan 7 bulanan.

Dari sudut pandang agama, insyaAllah, dalil soal dua kegiatan ini memang nggak ada. maka saya pun nggak ada rencana mengadakan syukuran di waktu 4 bulanan dan/atau 7 bulanan ini. Hanya, memang kami sempat merencanakan syukuran di antara dua waktu tersebut sebagai pengganti unduh mantu di Depok. Niat awalnya, setelah idul fitri (2016) kami adakan, tapi saya tunda mengingat Istri sedang hamil trimester awal yang mana, di sekitar kami, banyak teman atau istrinya teman yang mengalami keguguran di kehamilan pertama pada trimester awal ini. Mengingat juga istri saya masih kerja dengan jarak yang lumayan, rasanya agak seram kalau harus maksa nyiapin syukuran dan mengurusi ini itu diawal-awal kehamilan.

Tapi ternyata sepertinya berbeda dari sudut pandang perkembangan janin.  Continue reading “Jurnal Ayah #2: 4 Bulanan & 7 Bulanan”