Sepi

Nelangsa

Berduka

Sepi

Langsung menghujam duka

Purnama

Gemintang

Segera menusuk kehampaan

Berubah menjadi kesepian

Ah, persetan

Banyak orang lalu lalang

Mobil motor berlaluan

Bumi tetap begini sempit!

Menyesak dada hingga sakit!

Sepi

Berduka

Terus menghujam jiwa

Dengarkanlah Baik-Baik (edt)

dengan segenap pena yang ku punya, serta lirih suara yang mampu ku tuturkan, dengarkanlah baik-baik apa yang akan aku sampaikan ini. lidah ku akan kelu kalau diminta mengulanginya sekali lagi, maka perhatikanlah dengan seksama, masukkanlah ke dalam hati lantunan kata ku ini..

dengarkanlah baik-baik. aku, sebagaimana makhluk lain, juga ada rasa cinta itu. yang entah akan kemana ia berarah. dan, kerana rasa itu pula aku berjanji kepada diriku sendiri untuk senantiasa menjagamu. menjernihkan pendengaran ketika ucap mu mengalun lembut. mengakselerasikan gerak saat mengetahui ada mara bahaya yang mengancam. kerana perasaan itu pula janjiku ini tak pernah akan ku sampaikan kepada mu.. biar ia menjadi catatan tersendiri dalam bab perjalanan hidup ku. aku pun berjanji akan senantiasa mengikuti mu, kemana pun engkau pergi. agar aku bisa menjaga mu.. dengan segala apa yang aku punya. tapi.. bolehkah aku berharap sesuatu? janganlah engkau pergi ke tempat yang tak mungkin bisa aku ikuti. bukankah tak mungkin aku menjagamu andai tak berjumpa wujud kita?

dengarkanlah baik-baik. aku yang selama ini tak mengerti apa maksud para pujangga bahwa cinta tak harus memiliki, pada akhirnya sampai pada titik kepahaman tentangnya.

dengarkanlah baik-baik. aku yang ini, sekedar melihat dirimu tersenyum saja terbit pula matahari bahagia dalam lubuk hati yang terdalam., maka bayangkanlah apabila senyum itu tertuju untukku yang sedang dibuai rasa cinta ini?

dengarkanlah baik-baik. mendengar diri mu sedang bahagia saja, hati kecil ku turut merayakannya. sembari mendoakan agar tak hilang rasa bahagia milikmu itu. maka bayangkan andai bahagia itu kita bagi bersama..

dengarkanlah baik-baik. sekedar mencintaimu dari jarak tak terduga ini saja sudah cukup menjadi bahagia ku. maka bayangkanlah pabila cinta ini berbalas..

maka ketahuilah.. aku yang ini, adalah aku yang selalu siap untuk mu..

dan… dengarkanlah baik-baik. andai kehadiran ku adalah hama bagi mu, sungguh.. tak perlu engkau ragu.. pun, sebagaimana kata petuah, mata berbicara lebih dalam dari kata-kata. aku bisa membaca mata itu.. andai engkau inginkan aku tak lagi hadir di kehidupan mu, aku mampu.. aku mampu.. andai keberadaan ku justru mengusik kebahagiaan mu, aku akan pergi.. sebab, apalah artinya kita bersama yang kita cintai, namun yang dicintai justru kehilangan kebahagiaannya.. pun memang diujung jalan ini kita tetaplah berada pada jarak atau bahkan menemukan bahagia kita masing-masing, aku akan mensyukuri atas apa yang telah aku alami, serta memohon ampun atas rasa yang pernah singgah., agar tak berpaling pandangNya kepada ku, agar diampuni andai rasa ku ini adalah sebuah kesalahan..

Diam

diam. aku akan diam. untuknya, maafkanlah segala apa yang pernah ku ucap, andai itu terlalu menyakiti. dan, maafkanlah untuk setiap ucap yang terlalu membuat mu bahagia. aku tak tahu. aku tak pernah mampu membaca hati. buatku, lebih mudah membaca diagram fasa dibanding aku harus membaca hati, lebih-lebih itu hati mu. terlalu banyak sudut rumit nan sempit yang harus aku datangi. bukan, bukan aku menyerah atas semua ini. yang aku lakukan hanyalah mengembalikan segalanya kepada yang Maha Membolak-balikkan Hati. hei.. kan hati kita miliknya? kalaupun aku akan meminta hati mu, aku akan meminta kepadaNya, pun sebaliknya. agar tak ada kemungkinan kecewa itu. yang aku lakukan hanyalah tentang menjaga, dan menyadarkan diri, bahwa aku dan dirimu adalah bagai punguk ,merindukan rembulan. tak pantas. dan seperti yang terlalu sering mungkin ku ucap, dirimu pantas mendapat kebahagiaan yang lebih. bulan, pantas mendapatkan sinar mentari dan memantulkannya ke penjuru bumi yang takzhim kepadaNya. yang aku lakukan, adalah sesuatu yang sederhana untuk menjaga dirimu, lebih-lebih diriku. agar tak berpaling pandang dan ampunan Allah dari kita.

atas diam ini.. maafkanlah kalau itu menyakiti..

————————————————————–
ketika menikmati sore, Yogyakarta
25 Januari 2014

Benarkan, Tuhan..?

Aku tak pernah bertanya, kemana bulan yang separuh kan, Tuhan..?

Sebab aku tahu Purnama tak melulu indah

Aku tak pernah bertanya, kemana awan-awan itu berarak pergi kan, Tuhan..?

Sebab aku tahu kemanapun ia, pasti akan hadir kembali…

Aku tak pernah bertanya, mengapa dedaunan ini hijau kan Tuhan..? atau air begitu jernih, langit begitu biru, matahari begitu tegar tanpa ragu, gegunungan begitu gagah, iya kan Tuhan..?

Semuanya.. sebab aku yakin, bukan aku tidak peduli. Aku yakin akan kuasa-Mu, dan takkan mungkin Engkau menjadikan sesuatu yang buruk bagi siapapun jua..

Benarkan, Tuhan..?

Namun..

Kalau kemudian aku duduk termangu dengan kecamuk pertanyaan yang bercampur aduk dengan perasaan, disebuah taman yang hijau.. apakah aku salah, Tuhan..?

Kemampuan “iqra’” ku jatuh, rabaan imanku tertutup peluh..

Kalau kemudian jemari lemahku mengetuk pintu-Mu, mencari pertolongan serta ampunan, apakah aku salah..?

Kan, aku masih hamba-Mu..?

Kalau kemudian aku meminta dengan titik air mata, mampukan aku menjaga orang yang kusayangi dengan kedua tangan, kedua kaki, serta lisan ini, apakah aku Engkau izinkan, Tuhan..?

Kan, aku masih hamba-Mu..?

Kalau kemudian aku meminta kepada-Mu, untuk menjadikan aku mampu, apakah aku salah Tuhan..?

Ya.. semuanya.. adalah kehendak-Mu.. bukan aku..

Benarkan, Tuhan..?

———————————————————————————————————————————————————————-

di taman..

Yogya, 20 Maret 2013

Untuk Perempuan Tua

Sedang apa perempuan tua? Di tengah ruang gelap yang tak kunjung menyala

Di hadapan kotak-kotak dunia yang semakin menggila

Ada apa perempuan tua? Tatapmu kosong tak menanda, berbicara setelah ini tak ada lagi sesiapa..

Hampir tiga per empat abad telah engkau jalani segala keseakanan hidup

Ada apa perempuan tua? Aku dan engkau sesama tahu, kotak dunia itu takkan menjawab sesuatu soalan pun

Sudah, sudah.. sudahi saja kesenduan itu., mendiangnya tak kan kembali, sedang hari-harimu masih harus kau jalani

Tenanglah perempuan tua… aku memang bukan sesiapa., hanya sahaya yang hampir-hampir tak mengerti suatu apa

Tetapi aku seorang manusia yang mengerti arti sebuah kehilangan yang tak sementara

Tenanglah perempuan tua… simpan sedanmu itu

Di balik sofa-sofa kulit yang mulai merakit-rakit, ringkih dalam ujung usia

Sudahlah perempuan tua, dunia memang tak seberapa, namun mampu membuat luka..

Tak perlu bersembunyi lagi di balik gelapnya ruang yang merekam memori cinta

Biarkan sedihmu pergi, biarkan mendiang bahagia..

Dan pastikan engkau menyusulnya ke surga..

———————————————————————————————————————————————————

Sajak untuk Perempuan Tua..

Yogyakarta, 16 Mei 2012

Kira-Kira Apa Judulnya..? :D

Tergenggam segala pilu..

Akan kubuang bersama waktu..

Hingga terhempas ia dalam ketiadaan..

Berhenti bertemu dengan penyesalan

 

Tak ku sabdakan diriku pujangga

Karena aku memang bukan mereka

Tak ku indahkan apapun dengan kata

Agar indah dengan caraNya

 

Aku katakan pada kenangan

Lepaskan genggamanmu

Hentikan segala indahmu

Biarkan hatiku melayang terbang menuju Tuhan

 

Sampai tak ada lagi kepastian

Agar terhapus segala dendam

Agar hilang segala angan

Duhai… ini kenyataan pahit, tapi ini kenyataan

 

Sampai tak ada lagi kepastian

Kecuali ketidakpastian itu sendiri

Agar tak ada lagi yang kekal dalam ketetapan

Kecuali perubahan itu sendiri

 

—————————————————————————————————————————————————

Daripada bengong, baiknya ada yang di tulis.. J

Dan lahirlah puisi ini.. hehe.. 😀

Yogyakarta, 23 Februari 2011

Seperti Yang Lain

sekejap mata memandang langit

sekejap pula mata memejam

menitikkan embun yang tak kunjung meredam

bukan, bukan ingin menantangMu Allah

apalah aku berani menantangMu

bukan pula aku menatap langit,

untuk mencercaMu,

apalah aku, apalah aku…

aku hanya hamba, seperti hamba yang lain

aku mencintaiMu lebih dari apapun

aku berusaha menaatiMu, semampu tubuh ini melaksana

aku hambaMu, seperti yang lain,

melata dalam alam fana,

menata hidup meski nelangsa

mencari bekal untuk dunia tanpa fatamorgana

aku seperti yang lain,

tak mampu menembus dimensi,

namun mampu menembus hati

aku seperti yang lain,

aku insan

ingin hidup menjadi pejuangMu..

Allah,

bukankah aku berhak bahagia

seperti yang lain..?

———————————————————————————————–

*bersyukurlah atas segala rahmat dari Allah, alhamdulillah… :)*

Depok, 18 September 2010